Pagi harinya, aku terbangun dengan keadaan tubuh yang lemas. Energiku seolah terhisap habis. Jika yang kulihat semalam itu adalah kenyataan, lantas mengapa aku terbangun dengan kondisi kamar yang normal, tanpa darah sedikit pun? Jika mimpi, mengapa seperti nyata?

Aku langsung menceritakan apa yang kualami kepada Nindya. Tak lupa kuingatkan kembali mengenai hal-hal yang kami obrolkan bersama Fajar kemarin, keanehan Mbak Lia, dan tentu saja suara berisik di dapur.

"Jangan lupa Nin. Harga kamar kost kita murah banget."
"Hmm, masuk akal sih. Tapi nggak apa-apa lah, tempatnya rame, strategis, murah ini. Realistis aja Ran. Berbagi sama makhluk halus kan nggak ada ruginya."
"Tapi kan ngeri Nin…."
"Ya dibawa santai aja lah selama nggak rugi. Toh nggak dibunuh ini kan?"
"Belum dibunuh aja kali, Nin…"
"Makanya Ran, udah nggak usah panik, nanti kita sakit jantung terus mati."

Tidak ada gunanya memang berbicara dengan Nindya. Namun, aku pun tak dapat mengambil keputusan. Masalahnya, Kenanga memang lokasinya sangat strategis, nyaman, ber-AC, dan semua itu bisa aku dapatkan dengan harga murah.

Nindya ada kuliah pagi dan aku baru berangkat nanti siang. Biasanya, aku akan tidur dan merasa nyaman karena tempat tidurku menjadi lebih luas tanpa Nindya. Namun, tidak akan aku tidur setelah pengalaman semalam! Bagaimana jika aku membuka mata dan kemudian mendapati sosok perempuan berdarah itu di depan mataku? Ini bukan cara ketindihan yang aku inginkan.

Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke kafe sebelah. Jam nanggung seperti ini, biasanya kafe kecil itu tidak ramai. Wifi-nya lumayan kencang. Bolehlah sesekali memesan red velvet dengan boba.

Aku membuka ponsel dan terpikir satu kalimat yang akan kucari di Google : rumah kost Kenanga berhantu. Kutulis juga nama kampusku, karena ia terkenal dengan berbagai kisah hantu di setiap fakultas dan sudut-sudut sepi. Seperti yang kutebak, masalah rumah kost ini bahkan ada di halaman pertama Google. Seseorang menuliskannya di forum.

Kakaknya tmn gw pernah ngekos di daerah xxx, kampus xxx, yang deket fakultas xxx itu. Dl pernah ada mahasiswi bunuh diri, gr2nya hamil duluan tp lakinya nggak tanggung jawab. Ada yg blg ceweknya kena teror mknya dia ga thn trus bnh diri. Kakak gw ga ngalamin si, tp temennya srg dgr suara cewe nangis tgh malem di sana.


Rumah kost deket warung nasi itu? Minta tumbal dia. Prnah ada cwo malem2 kecelakaan, koma, abis sadar dia blg ktnya dia nabrak cwe cantik bgt. Pdhl korbannya cm dia. Kyknya cwe itu dendam bgt sm cowo.



"Mas, emang rumah kost sebelah pernah ada pembunuhan ya?"
"Wah, nggak tahu Mbak, kita baru soalnya di sini."

Aku mencoba menghibur diriku dengan berkata dalam hati bahwa urban legends semacam itu bisa saja dikatakan oleh siapa saja bukan? Semua orang ingin jadi asyik di dalam forum, siapa tahu kalau mereka mengarang bebas?

Ngmngin rmh kost, emg byk yg horor gr2 kena aura kampus yg horor duluan. Prnah ada yg nggak sengaja masuk ke dimensi lain lho abs plg dr kampus. Balik ke thn 2007an, pas nyadar dia ketiduran di tgh jalan.

Aku bergidik ngeri. Apakah semalam aku memasuki dimensi tersebut?

Di kampus, aku membahas hal tersebut dengan beberapa teman satu jurusan. Namun, sudah jelas respons yang kuterima adalah gurauan, atau ketidaktahuan. Seharusnya memang kalau ada pembunuhan atau korban bunuh diri, bakal ada banyak orang yang tahu. Atau memang kasus tersebut sengaja ditutup-tutupi?

Materi yang diajarkan oleh dosen sama sekali tidak ada yang masuk ke otak. Hari semakin sore, konsentrasiku semakin menurun, kantukku tak tertahan, sementara bayangan perempuan itu semakin nyata.

Aku sudah tidak tahan lagi.

"Pak…", langsung kutemui Pak Bule usai pulang kampus, "Saya bisa bicara sebentar?"

Lelaki bertubuh gempal itu sedikit terkejut, "Mm..mau ngomong apa ya Neng? AC kamar rusak ya?"
"Enggak Pak..gimana ya. Saya mau tanya tetapi bapak jangan bilang siapa-siapa."
"Hmm, bo..boleh Neng."
"Pak, apa kamar saya itu bekas pembunuhan, atau kasus apa gitu? Nggak Pak, bukannya kamarnya jelek...tapi…."
Air muka Pak Bule langsung berubah. Tiba-tiba lututku lemas. Aku tahu memang ada yang tidak beres.

"Kita ngomong di luar aja ya Neng."
Aku segera mengikuti Pak Bule ke kursi teras. Ia mempersilakan aku duduk di sebelahnya. Setelah menghela napas, ia langsung bercerita kepadaku.

"Iya Neng, betul. Pernah ada yang bunuh diri di sana. Di kamar yang Neng Rani sama Neng Nindya tempatin."
"Serius Pak? Kenapa Pak? Bener katanya dihamilin?"
"Neng tahu dari mana soal begini?"
"Pak, rambut cewek itu pendek? Iya? Anaknya kecil, tirus, manis?"
"Kok tahu????"
"Saya didatengin sama dia Paaak tadi malem…."
"Astaghfirullah…", berulang kali Pak Bule mengucapkan istighfar. "Ya ampun, Neng Riska, Neng Riska bener-bener belum tenang.."
"Riska, Pak? Angkatan berapa? Terus beneran bunuh diri Pak?"
"Mungkin bukan karena rumah kost-nya Neng, tapi siapa yang bikin dia mati…"
"Hah???"
"Jadi…", ia memelankan suaranya. Namun, belum saja ia bercerita, seorang mahasiswi memanggilnya dari dalam rumah kost. Ia mengakhiri pembicaraan itu dengan satu kalimat.

"Pokoknya Neng banyak doa aja ya. Kalau udah nggak tahan, pindah aja Neng. Selama dia belum mati, mungkin Neng Riska belum mau pergi."

Dia. Siapakah yang dimaksud?