Ujian hari ini betul-betul menyebalkan. Selain rasa kantuk yang menyerang, soal-soal essay yang diberikan menuntut jawaban lengkap tetapi lugas. Tangan kananku begitu pegal, rasanya aku membutuhkan pijat refleksi.

Untungnya, tidak ada kuliah lagi setelah ujian. Hari Rabu memang hari yang lapang. Aku bisa menghabiskan waktu seharian untuk menonton film dengan wifi kost gratis. Namun, sebelumnya, aku akan membayar tidurku yang tak nyenyak semalaman.

Pada siang hari, rumah kost Kenanga selalu sepi. Hanya ada satu dua anak kost, Mbak Lia, serta Pak Bule. Suasana sepi semacam ini sangat cocok untuk beristirahat...dan semoga tidak ada mahasiswi yang ribut memasak seperti tadi malam.

Namun, perkiraanku sedikit salah. Rumah Kost Kenanga rupanya kedatangan pemiliknya. Bu Shanti, seperti biasa datang untuk mengecek kondisi rumah kost dan juga pembukuan secara manual. Kali ini, ia tidak datang sendiri. Ia bersama seorang lelaki muda, jarak umurnya tidak jauh dariku, dan lelaki itu...menarik.

"Eh, Mbak Rani. Baru pulang Mbak?", Bu Shanti langsung menyapaku setelah sampai. Ia memang ramah, dan yang lebih penting, ia memberikan kamar kost bagus dengan harga murah.
"Wah, Bu Shanti, sudah datang dari tadi?", ucapku sambil mencium tangannya, "Iya Bu, kuliahnya cuma satu, cuma tadi pagi..Jadi sekarang mau istirahat dulu."
"Oh, ini kenalin, anak saya, Raka…", ia menunjuk pada lelaki tampan itu, "Dulu kuliah di sini (di kampusku), jurusan manajemen…"
Sudah ganteng, pintar pula, tuturku dalam hati.
"Wah, sudah kerja ya Mas?"
"Iya Mbak, sudah kerja..", ia menyebutkan sebuah kantor bergengsi, "Mbak jurusan apa?"
"Saya di FISIP, Mas, 
 jurusan Sosiologi. Barusan ujian, hehehe."
"Wah, semalam kayaknya begadang nih, keliatan ngantuk gitu."
"Iya, Mas. Hampir nggak tidur. Tapi bukan karena belajar. Nggak tahu tadi malam tuh ada anak yang masak tapi berisiiik banget. Masak tengah malam, hehehe."
Kukatakan keluh kesahku, siapa tahu Bu Shanti bakal membuat peraturan tentang larangan memasak di atas jam dua belas malam.

Namun, Bu Shanti dan Raka justru diam mematung. Wajah mereka mendadak pucat. Tinggalah aku yang semakin kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi?


Ataukah aku membuat kesalahan?

"Emm, tapi nggak apa-apa, kok, hehehe. Mungkin aku cuma nervous karena mau ujian aja…", ujarku mencairkan suasana, "Maaf saya pamit dulu ya masuk ke kamar…"

Aku segera menuju ke kamarku, yang tak jauh dari meja tempat mereka berkumpul. Tak lama, kudengar Raka berkata:
"Mbak, maaf, kalau memang berisik, nanti kami ingatkan para penghuni ya untuk nggak masak malam-malam…"

Nah, ini yang aku mau!

Namun, di malam harinya, aku masih mendengar suara berisik di dapur. Aku tidak tahu apakah omongan Raka tadi siang itu cuma basa-basi, atau penghuni yang satu ini benar-benar keras kepala dan tidak peduli dengan kenyamanan penghuni lain! 

*** 
"Lo berdua kost di Kenanga?"
Aku dan Nindya menganggu, "Iya Jar."
"Eh Nin lo emang nggak tahu ya, itu kan rumah kost berhantu!"
Kami saling berpandangan setelah Fajar, teman SMA Nindya, yang berkuliah di kampus yang sama, menyelesaikan kalimatnya.
"Berhantu gimana ya?"
"Pernah ada orang bunuh diri coy di sana! Nggak tahu juga bunuh diri beneran apa dibunuh! Kabarnya sih, karena hamil duluan."
"Patah hati, Jar", balas Toni, teman sejurusan Fajar, "Kaga ada hamil-hamilnya."
"Yang gue denger hamil duluan sih, Ton.."
"Versi cerita kalian berdua aja beda, pasti urban legend karangan mahasiswa turun-temurun nih. Mana ada horornya, jalan depan aja rame gitu."
"Setan gentayangan mana kenal jalan rame apa nggak", kata Toni.

Ia melanjutkan, "Cewek ini tuh dulu pacaran sama cowok sekampus, dan cowoknya ninggalin. Terus dia bunuh diri di Kenanga. Tapi ditutup-tutupin, biar rumah kost-nya tetep laku. Yang kost di sana waktu itu disogok."
"Eh, harga sewa kamar kost kalian berdua murah banget ya? Ati-ati. Jangan-jangan itu kamar bekas buat bunuh diri."
"Ngaco lo", ujar Nindya. Aku juga mengatakan hal serupa dan menambahkan bahwa omongan Fajar semakin kacau. Namun, aku mulai merasa bahwa logika Fajar ada benarnya.

Selama ini, aku bertanya-tanya mengapa harga sewa kost kamar kami sangat murah. Aku pernah sedikit berpikir soal kamar berhantu, tetapi siapa yang peduli sama setan kalau kamu bisa mendapatkan keuntungan? Hanya saja, apa yang dikatakan Fajar, ditambah keanehan Mbak Lia, Bu Shanti, dan Fajar, membuatku kepikiran juga. Namun, kemudian kubuang jauh-jauh pikiran itu. Lagipula, kalaupun ada hantu, aku berdua dengan Nindya, dan kamarku tak jauh dari pintu keluar serta kamar Pak Bule dan Mbak Lia.

*** 
Sudah tengah malam dan tugasku baru selesai. Nindya sudah tidur, lebih tepatnya ia pulang malam dan langsung kelelahan. Aku segera merebahkan diri dan bersiap tidur. 

Hingga aku tidur, tak ada suara berisik dari dapur. Barangkali penghuni yang satu itu menyadari bahwa aktivitasnya pada tengah malam sangatlah mengganggu. 

Namun, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berat. Sepertinya aku terbangun, tetapi tidak bisa kugerakkan badanku. Tindihan, alias rep-repan, alias sleep paralysis! Proses ketika badanmu tidur, tetapi pikiranmu terbangun. Sudah lama aku tidak merasakan hal yang tidak nyaman ini.

Kurapalkan ayat kursi terus-menerus, berharap proses ini segera berakhir. Namun, aku malah seperti melihat kamarku sendiri dari sudut lain. Badanku terasa ringan, tak berbobot, tetapi tak dapat kukendalikan. Aku hanya bisa mematung di dekat pintu, melihat pintu kamarku dinyalakan entah oleh siapa, dan menyaksikkan dekorasi serta penataan kamar yang sedikit berbeda. Aku di mana? Di kamar, tentunya, tetapi tidak seperti kamarku!

Aku terkejut saat tiba-tiba melihat seorang perempuan di meja. Ia manis, rambutnya bob dengan wajah tirus. Namun, ia terlihat sangat sedih. Matanya sembab. Ia terisak.

Tiba-tiba, tangannya menjulur ke laci dan mengambil sesuatu. Pisau lipat. Untuk apa?

Aku ingin memanggilnya, tetapi tidak ada satu pun bagian tubuhku yang dapat digerakkan, termasuk mulutku. Segera ia mengarahkan pisau ke pergelangan tangannya, mengirisnya, dan kulihat darah mengalir perlahan dari sana.

Batinku berteriak, tetapi aku tak bisa melakukan apa-apa…. Ini di mana? Aku mencoba menenangkan diriku sendiri dan berkata bahwa ini cuma mimpi, tetapi, apa yang kulihat sangat nyata.

Aku melihat wajah pucatnya menahan rasa sakit..
Aku melihat darah yang mengalir hingga ke celananya..
Aku melihat ia terjatuh dari kursi..
Dan aku melihat ia mati perlahan...

Baca bagian satu di sini

Ingin menceritakan kisah hidupmu dan dibaca di seluruh dunia? Tinggalkan cara lama, beralihlah ke cara baru. Bukumu bisa terbit di Play Store bersama Graf, gratis desain sampul untuk semua paket. Mulai dari Rp30.000,00, pesan sekarang juga melalui Whatsapp 085-781-069-761