Aku tinggal di sebuah rumah kost bernama Kenanga, tak jauh dari sebuah kampus yang cukup bergengsi di kota. Rumah kost Kenanga terletak di Gang Saroja, berdempetan dengan rumah-rumah indekos lain, warteg, warung, pujasera murah, hingga rental PlayStation. Gang Saroja adalah gang yang hampir tidak pernah tidur. Di siang hari, ia begitu ramai oleh anak-anak kuliah yang nongkrong, makan, atau baru pulang kuliah. Di malam hari, ia tetap ramai oleh mereka yang menghabiskan waktu di warung-warung nasi kucing atau para mahasiswa yang kerja kelompok sampai Subuh.


Gang Seroja adalah gang yang begitu berkilau. Ia dihiasi cahaya gemerlap, menyala dari warung-warung, warteg, rumah kost, deretan lampu jalan. Kamu tidak akan pernah merasa ketakutan dan sendirian di Gang Seroja. Setan pastinya enggan mampir ke gang yang ramai orang.


Itu yang dulu kupikirkan, sebelum aku melewati dua tahun di Rumah Kost Kenanga.


Rumah Kost Kenanga adalah kost putri dengan fasilitas pendingin ruangan, kamar mandi dalam, dan dapur bersama. Ia memang tidak tingkat, tetapi desainnya sangat hangat dan compact. Interiornya mengusung desain shabby-chic modern dengan hiasan monstera di beberapa sudut, gambar-gambar kayu vintage pada dinding, dan kamar dengan warna cat broken white serta lantai kayu imitasi. Pemilik kost menawarkan apakah aku ingin menempelkan beberapa hiasan dinding berpigura bulat dengan sketsa kaktus. Aku mengiyakan dan itu membuatnya nyaman.


Oleh karena kenyamanan itu, setiap kamarnya disewakan cukup mahal per bulan. Namun herannya, aku mendapatkan kamar strategis ini hanya dengan harga Rp700.000,00 per bulan! Lebih asyik lagi, aku boleh mengajak teman. Jadi, aku hanya membayar Rp350.000,00 per bulan untuk kamar dengan AC, wastafel, dan kamar mandi dalam.



Waktu itu, aku iseng saja masuk ke Kenanga dan bertanya mengenai harga sewa kamar. Tiba-tiba, pemilik mengatakan bahwa kamar bagian bawah, dekat dengan pos satpam, dekat dengan kamar asisten kost, dekat dengan dapur, dekat dengan pintu keluar ini disewakan dengan harga murah. Aku tidak bertanya mengapa harganya murah. Bagiku, harga murah itu sudah sangat cukup untuk menjadi alasan bagiku dan Nindya --teman SMA-ku yang berkuliah di kampus yang sama, tetapi beda jurusan--menyewa di sana.


-------

Bulan ini adalah bulan Mei. Entah mengapa kamar kostku lebih panas dari biasanya. 

"Nin, lo ngerasa gerah nggak sih tiap malem?"

"Iya. Biasalah. Mau kemarau."


Namun, ini bukan rasa gerah yang menyenangkan. Rasanya, aku jadi kesulitan untuk tidur. Malam ini, seharusnya aku tidur cepat karena ada ujian dan presentasi besok, tetapi rasa gerah ini begitu menyiksa.


"Lo turunin deh AC-nya, Ran.."

"Udah, Nin. Udah gue setting fan-nya gede. Tapi panas banget. Udah mandi juga."

"Besok gue bilang Pak Bule (penjaga kost kami) deh. Siapa tahu AC-nya rusak."

"Yah, entar bayar biaya reparasi dong…"

"Yaelah Nin, di sini aja udah murah kita bayarnya."


Tidak lama setelah pembicaraan itu, Nindya tertidur pulas. Anak ini memang pelor, alias nempel molor. Mungkin karena kuliahnya lebih padat daripada aku. Atau mungkin, memang sifatnya begitu.


Sudah satu jam aku membolak-balikkan badan dan mencoba membayangkan hal menarik, seperti Shire di The Lord of The Rings, New York dalam Sex and The City, atau Diagon Alley di Harry Potter. Membayangkan diriku di tempat-tempat itu sangat menyenangkan, tetapi aku tidak bisa tidur.


Pada pukul dua pagi, aku mendengar suara orang memasak dari dapur. Lengkap sudah penderitaanku! Entah anak kamar mana yang memasak pagi-pagi buta! Sepertinya ia tengah menggoreng sesuatu karena sungguh suara letupan minyak itu kencang sekali!


Aku ingin sekali keluar dan menegurnya, tetapi tentu saja aku malas ribut dengan orang satu rumah kost. Pada akhirnya, aku baru bisa tidur pukul setengah empat.


----

"Mbak Lia (asisten di rumah kost), siapa sih yang masak pagi-pagi buta tadi Mbak?"

Mbak Lia tiba-tiba menatapku tajam. Sesuatu yang tidak aku harapkan terjadi. Mendadak aku merasa tidak enak.

"Emm, itu Mbak Lia ya yang masak? Hehehe."

"En..enggak Mbak...Anu, iya kali ya ada mahasiswi..aku nggak denger sih.."

"Hmm, keras banget Mbak suaranya.."

Mbak Lia tidak menjawab pertanyaanku. Ia merapikan majalah-majalah yang ada di sofa, kemudian cepat-cepat pamit dan berlalu dari sana.


"Nin, lo denger suara orang masak tadi jam dua?"

"Hah? Ngapain masak jam segitu? Hmm mungkin ada yang laper waktu ngerjain tugas kali ya."


Aku mengangkat bahu. Barangkali pendapat Nindya benar. Dan aku tidak berpikir aneh-aneh pada saat itu. Aku juga tidak menyangka bahwa beberapa hari kemudian, aku akan mengalami kejadian tak terlupakan yang membuatku dihantui banyak mimpi buruk.